Apakah yang terbayang di benak kita ketika membaca atau mendengar kalimat itu??? Sebuah rumah dengan fasilitas dan perabotan mewah, atau rumah dengan kolam renang dan taman luas??? Tentu saja tidak!!! Rumah surgawi adalah rumah yang menyejukkan, menentramkan, melejitkan kecerdasan dan membangkitkan jiwa, Di rumah surgawi anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keyakinan tinggi kepada kasih sayang dan rahmat Allah Ta’ala, memiliki rasa harga diri dan kepercayaan diri yang kuat untuk terus bertumbuh , berkembang, dan berkontribusi. Akan tetapi jika di rumah Anda terjadi: 1. KEKERASAN FISIK 2. KEKASARAN VERBAL: bentakan, ancaman sadis, kata-kata tajam, kritikan pedas, umpatan, omelan, cemoohan, hinaan yang menyakitkan, dsb . 3. Bentuk-bentuk komunikasi negatif lainnya. MAKA Inilah NERAKA DI RUMAH ANDA. HATI-HATI!!! 1. Selain merusak keharmonisan, komunikasi negatif dapat menimbulkan timbunan ‘file’ berbahaya di pikiran bawah sadar. 2. Komunikasi negatif sangat buruk untuk pendidikan anak. Contoh: ketika orang tua marah kemudian mengumpat anak-anaknya dengan kata-kata negatif (misal: Bodoh, Tolol, semua isi kebun binatang dikeluarkan) maka anak tersebut akan turun harga dirinya dan menjadi anak yang TIDAK PERCAYA DIRI. Oleh sebab itu, marilah kita kembangkan KOMUNIKASI POSITIF agar tercipta surga di rumah anda dengan cara: 1. Adanya kontak visual 2. Tatapan mata lembut atau hangat. 3. Nada suara rendah 4. Senyum 5. Jarak dekat maksimal 2 meter 6. Mulai dengan kalimat dan sikap pengakraban ( jangan to the point) 7. Congruence (cocok) 8. Apresiatif: memberikan apresiasi positif pada anggota keluarga. Contoh: setelah suami pulang kerja, sesampainya di rumah kemudian ia menghampiri istri kemudian mengatakan “Capek ya ngurus rumah?” itu merupakan salah satu bentuk perhatian suami terhadap istri 9. Mendengarkan aktif. Contoh: sepulang sekolah, anak anda menceritakan peristiwa yang menimpanya di sekolah, maka dengarkanlah dengan seksama sampai ia selesai bercerita sebagai salah satu bentuk perhatian anda. Jangan potong pembicaraannya. Setelah ia selesai bercerita barulah anda Nasihati diadengan bijaksana jika perlu. SEBAGIAN BESAR KELUARGA TIDAK BAHAGIA PENYEBABNYA ADALAH KOMUNIKASI YANG BURUK. Simaklah sebuah percakapan antara ayah dan anak berikut ini. ANAK : yah, ayah sedang sibuk ya? Ayah : iya ayah sibuk sekali, ada apa? (dengan nada ketus) ANAK : Gaji ayah sebulan berapa sih? Ayah : 3 juta!!! ANAK : Lalu kalau sehari berapa? Ayah : Ya tinggal dibagi aja, masa’ kaya’ gitu aja ga bisa? ANAK : Ooo berarti seratus ribu ya Berarti kalau setengah hari lima puluh ribu ya yah? Ayah : Iya bener, sudah sana pergi, ayah sedang kerja. Ganggu aja!!! ANAK : yah, minta uang lima ribu. Ayah : lho kok??? Buat apa? ANAK : aku kan punya uang 45 ribu kalau ditambah 5 ribu kan jadi lima puluh ribu. Aku mau beli waktu ayah setengah hari. Aku ingin pergi mancing bareng ayah. >>> betapa menyedihkannya jika hal itu sampai menimpa diri kita, sesibuk apa pun, orang tua harus memiliki perhatian pada anak, tahu apa yang paling anak butuhkan. Itulah sedikit oleh-oleh dari seminar RUMAHKU SURGAKU oleh RUA Zainal Fanani, MM. Pr. NLP di Solo Baru pada hari sabtu, 1 Mei 2010
Latest Entries »
PAKEM adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangan. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan peserta didik, mengembangkan kreativitas sehingga proses pembelajaran efektif dan menyenangkan. Pembelajaran tersebut juga dikenal dengan nama PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (Contextual Teaching and Learning).
Aku adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Pendidikan terakhirku S3, artinya saat ini aku adalah seorang Doktor. Aku mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sebuah fakultas yang akan melahirkan calon guru-guru pendidik putra bangsa. Saat ini aku memiliki seorang anak berumur 7 tahun. Dia kelas satu Sekolah Dasar. Anakku memiliki kebiasaan buruk, dia suka berkata kotor (misalnya:brengsek, bodoh, sialan). Aku bingung menghadapi anakku ini. Akhirnya aku mencoba bekerja sama dengan guru di sekolahnya untuk mengatasi tingkah laku anakku yang tidak sopan ini. Setiap hari aku selalu melaporkan kata-kata buruk yang diucapkan anakku kepada gurunya. View full article »
Gaya pengasuhan orang tua (parenting style) adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya.
Macam-macam parenting style:
OTORITER
Berupaya menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara sepihak, tanpa memberi kesempatan untuk berdialog. Ia juga lebih senang menggunakan hukuman dalam menerapkan peraturan daripada menggunakan pendekatan dialog dan kehangatan hubungan. Anak dari keluaraga otoriter menunjukkan beberapa kesulitan dalam berperilaku. Mereka kurang memperlihatkan rasa ingin tahu dan emosi yang positif serta kurang bisa bergaul. View full article »
A. Ghoffur berangkat sekolah pukul 07.00 wib
B. Ghoffur berangkat sekolah jam 07.00 wib
Kita pasti pernah mendengar dua kalimat di atas bahkan mungkin sering.
Kata “pukul” digunakan untuk menunjukkan waktu.
Contoh penggunaan kata “pukul”
1. Ghoffur berangkat sekolah pukul 07.00 wib
2. Effin bangun tidur pukul 04.00 wib
Kata “jam” digunakan untuk menunjukkan lamanya waktu.
Contoh penggunaan kata “jam”
1. Adik belajar selama 2 jam
2. Ibu memasak selama 1 jam
Judul Buku : TOTTO-CHAN ; GADIS CILIK DI JENDELA
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 271
Harganya sekitar Rp 55.000,00 (Hard Cover) tahun 2009
Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto-Chan. . Totto Chan ini anaknya tidak bisa diam. Ia gemar sekali berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Oleh karena itu, Totto Chan dianggap “nakal” oleh gurunya. Padahal, gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Para guru sudah kewalahanmenghadapi Totto Chan sehingga ia dikeluarkan dari sekolah.
Mama Totto Chan akhirnya mendaftarkan Totto Chan ke Tomoe Gakuen. Di Tomoe Gakuen, para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Totto Chan sangat senang bersekolah di Tomoe Gakuen. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.
Tomoe Gakuen adalah sekolah yang unik. Para murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai dengan keinginan mereka. Guru membuat daftar soal dan pertanyaan tentang pelajaran hari itu dan siswa boleh berkonsultasi dengan guru kapan saja apabila mengalami kesulitan.
Tomoe Gakuen dipimpin oleh Mr. Sosaku Kobayashi, kepala sekolah bijak yang selalu berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya. Mr. Sosaku Kobayashi mendidik setia anak untuk menjadi siswa yang berkarakter dan penuh percaya diri sendiri dengan menggunakan pendekatan alam.
Untuk ‘memaksa’ anak menyantap makanan yang bergizi, kepala sekolah meminta siswa untuk melengkapi bekal makanan mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ dan ’sesuatu dari laut’. ‘Paksaan’ tersebut tidak dirasakan oleh anak, karena mereka lebih tertarik untuk menebak-nebak dan sebisa mungkin melengkapi bekal mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ (makanan dari daratan) dan ’sesuatu dari laut’ (makanan dari laut). Sebelum mulai acara makan, kepala sekolah akan berkeliling dan memeriksa bekal setiap anak. Kadang beliau mengajukan pertanyaan dan menjelaskan menu makanan tertentu.
Setelah seharian belajar, siswa dibolehkan memilih acara bebas. Biasanya mereka memilih untuk berjalan-jalan. Ditemani dengan Bapak/Ibu guru mereka berjalan-jalan dengan riang, sesekali mereka bertanya tentang apa saja yang mereka liat atau temui. Anak-anak tidak pernah menyadari, bahwa dalam acara bebas ini mereka sesungguhnya belajar banyak tentang sains, biologi, dan sejarah.
Bila Anda menganggap seorang anak –yang melakukan perbuatan yang dianggap aneh oleh orang dewasa– harus diberi hukuman, maka Anda adalah salah seorang yang perlu menyimak kisah berikuti ini.
Peristiwa ini terjadi ketika dompet kesayangan Totto-chan jatuh di lubang pembuangan kakus di sekolah. Gadis cilik itu menciduk kotoran yang ada di lubang penampungan kakus sembari berharap menemukan dompetnya. Namun, sampai bel pelajaran sekolah berbunyi dan tumpukan kotoran telah meninggi, dompet belum juga ketemu. Pada saat itu muncullah Kepala Sekolah. Hebatnya dia sama sekali tidak memarahi Totto-chan. Bahkan menganggapnya sedang melakukan pekerjaan penting.
Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.
“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan
“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tidak ingin membuang waktu.
“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu, Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi.
Kepala Sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetmu?” tanyanya.
“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.
Kepala sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai kan?”. Kemudian pria itu pergi lagi seperti sebelumnya.
“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja (hal. 57 – 58).
Kepala Sekolah memilih menanyakan kesediaan Totto-chan mengembalikan kotoran ke dalam kakus. Tidak melarang Totto-chan melanjutkan “proyeknya”, namun mengajarkan tanggung jawab kepada murid kecilnya daripada memarahinya. Tidak ada kemarahan, tidak juga hardikan, yang ada adalah pengertian mendalam terhadap alasan tindakan seorang anak. Buat siswa kelas satu SD, menciduk kotoran dari lubang penampungan kakus bukanlah hal yang aneh, apalagi bila hal itu dilakukan untuk mencari dompet yang jatuh ke kakus.
Kelebihan lain Tomoe Gakoen adalah pelajaran praktek yang langsung dibimbing seorang ahli di bidangnya. Seperti yang dialami Totto-chan pada saat Kepala Sekolah memperkenalkan seorang guru baru kepada murid-murid.
Saat memandangi guru itu, Totto-chan merasa pernah melihatnya. “Dimana, ya?” ia berusaha mengingat-ingat. Wajah pria itu ramah, terbakar matahari, dan penuh kerutan. Ia merasa telah sering melihat pipa ramping yang tergantung pada tali hitam yang berfungsi sebagai ikat pinggang itu. Tiba-tiba Totto-chan ingat!
“Bukankah Anda petani yang mengolah ladang dekat anak sungai itu?”tanyanya riang pada si pria.
“Benar,” kata “Guru Baru” itu sambil tersenyum lebar (hal. 177 -178).
Kepala Sekolah menghargai kompetensi Si Petani untuk mengajarkan pada murid-murid tentang cara bertani yang baik. Perhatikan reaksi Kepala sekolah ketika Si Petani tersebut menolak disebut “Guru” oleh anak-anak Tomoe. Reaksi yang menunjukkan penghormatan terhadap kompetensi seseorang :
“Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia Guru Pertanian Kalian,” kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu. “Dengan senang hati Dia setuju untuk mengajari Kalian bagai mana cara bercocok tanam. Ini seperti mendapatkan pembuat roti untuk mengajari Kalian caranya membuat roti. Nah, dengar,” katanya kepada Petani itu, “Katakan kepada Anak-anak apa yang harus Mereka lakukan, lalu Kita akan mulai sekarang juga.” (hal 178).
JANGAN MUDAH MARAH ATAS APA YANG DILAKUKAN ANAK.
BERIKANLAH MEREKA KEPERCAYAAN
AJARILAH MEREKA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB
Totto-Chan; Gadis Cilik di Jendela ditulis oleh mantan murid Tomoe Gakuen yaitu Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi). Buku ringan dan mengasyikkan namun sangat berbobot. Layak dibaca semua usia dan semua kalangan.
Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EI ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah ‘kekuasaan’ yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EI lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.
Ibu guru yang baik, saya titipkan anak saya kepada anda. Saya lakukan ini dengan ketulusan, kebangggan, dan perasaan was-was. Maklumlah sebagai orang tua, saya terlalu cemas dengan dirinya. Saya ingat masa-masa ketika ia baru lahir ke dunia ini, tangisan dan tawanya telah membuat kami semua tenggelam dengan perasaan haru. Kini waktunya ia bersekolah dan kami percayakan putera kami sepenuhnya kepada anda. Sebagaimana dulu ibu dan ayah saya mempercayakan saya pada asuhan anda ibu guru.
Ibu guru tahu, ia punya harta yang tak ternilai harganya, yaitu keterus terangan. Kalau ia tak suka pada sesuatu ia tak ragu berpendapat . Ini adalah bakat alamiah yang dipunyai oleh semua anak. Saya ingin ibu menjaga sikapnya itu. Kami ingin ibu guru memandunya danmelatihnya untuk menjadi seorang anak yang berani bicara jujur dan terus terang.
Lewat surat ini kami ingin berbagi pengalaman dan bertukar saran dalam memahami putera kami. Pertama-tama saya meminta ibu guru, untuk menjaga dan menghargai sikapnya itu. Ibu tahu, anak saya mungkin tidak tergolong pintar, tapi sikap keterus terangannya itu, jika dipahat dan diperkuat maka ia akan sama pintarnya dengan yang lain. Semangat anak saya akan menyala nyala jika ibu guru murah dalam memuji dan memberi dukungan; dan akan menyusut jika ia terlalu banyak diremehkan dan dibohongi. Beritahukan padanya apapun yang ditanyakan dan kami berharapa ibu tidak marah, kalau putera kami suatu saat mengkritik ibu guru. Pertanyaan adalah kesukannya dan kami berharap ibu guru menjaganya dan tetap memberi iklim yang membuat kemampuannya bertanya itu hidup dan tumbuh.
Terus teranglah padanya tentang apa yang ibu guru ketahui. Kami ingin putera kami bisa belajar tentang kenyataan hidup yang sebenarnya. Walau kenyataan itu menyakitkan tapi katakanlah yang sesungguhnya pada mereka. Saya ingin ibu guru melatihnya untuk tetap optimis melihat realitas yang buram dan menyalakan api semangatnya untuk terus belajar. Sikap terus terang dari ibu guru akan memberinya kekuatan dalam melawan kejamnya realitas dan sesekali berikan kepercayaan kecil padanya, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan. Saya ingin ibu guru melatih kemandiriannya supaya tumbuh rasa percaya dirinya. Saya tidak ingin ibu guru menjadikan dirinya anak yang sempurna tapi tidak berpeluh keringat, ia harus bisa dan mampu melakukan pekerjaan tangan apapun.
Ibu guru yang baik, langkah anak kami yang masih rapuh ini butuh bimbingan dan arahanmu. Tolong beri dia semangat saat dirinya mencari jalan untuk maju, saat dia merangkak ketika dia seharusnya berlari dan saat dia diam ketika anda tahu dia harus memimpin. Dia masih terlalu muda, jadi sesuatu yang wajar kalau dia tidak begitu konsisten. Dia masih belia, jadi sesuatu yang normal jika kadang terlalu nekad. Dia masih hijau, karenanya sering sekali berpikir aneh-aneh. Jangan ibu guru memarahinya atau menjulukinya dengan nama-nama yang menyakitkan. Tolong berikan perlakuan yang sama pada anak kami maupun temn-temannya, bahwa kalau mereka semua murid-murid istimewa.
Jika ia punya kelemahan dan keterbatasan, tolong secara diam-diam ibu catat dan rekam. Kelak katakan padanya sembari membantunya mengatasi masalah itu. Katakan juga pada kami sehingga kami ikut membantu dan bisa melibatkannya untuk memecahkan keterbatasan itu. Mengajari anak yang kini sedang menemukan identitas dan meraba harga dirinya memang tidak mudah, tapi karena itulah, kita bisa bertukar pengalaman dan pengetahuan. Latihlah dirinya untuk berorganisasi, karena di sana dirinya akan menemukan mutiara perilaku agung, yakni solidaritas dan cinta pada sesama. Latihlah dirinya untuk memahami persoalan yang lebih luas ketimbang kepentingannya sendiri. Saya ingin ibu mengajarinya untuk berkorban dan memahat sikap kepedulian . Anak saya datang pada ibu dengan tekad untuk belajar. Mohon ibu guru jangan mengecewakannya. Jadikan masa-masa sekolah ini sebagai sesuatu yang menyenangkan, menarik, dan menggairahkan baginya. Ajaklah dia sesekali keluar untuk melihat kalau pendidikan itu bukan hanya dari bangku ke bangku tapi juga lewat kenyataan keseharian. Saya ingin ketika dia meninggalkan kelas ibu, dirinya memiliki keyakinan yang lebih atas kemampuannya sendiri. Kelak ketika ia meninggalkan kelas ibu, saya berharap dirinya akan memiliki kecintaan besar pada pengetahuan dan sesamanya. Sebagai pelajar dan sebagai pribadi, kami sangat berharap ibu bisa tekun membimbing dan mengarahkannya. Pada akhirnya, bantulah putera kami menemukan harapan di atas bongkahan kehidupan bangsa yang buram dan menyakitkan ini. Tahukah ibu, tahun ini ibu akan menjadi salah seorang yang paling penting dalam hidupnya. Dia akan memutuskan atau meniru atau menolak nilai-nilai yang ibu guru semaikan. Dia mungkin akan menghormati dan mengingat ibu sepanjang hayatnya atau sebaliknya dia tidak lagi mengingat ibu dan merasa kecil hati atas setiap tindak tanduk ibu yang mungkin bertolak belakang dengan nilai yang ibu ajarkan. Sejujurnya, saya sebagai orang tua ingin ibu bisa menjadi seseorang yang paling dikaguminya-tapi untuk ini, ibulah yang bisa menentukan. Oh ya, pada saat tahun ajaran berakhir, mohon berikan ucapan terima kasih dan pelukan hangat padanya. Berterima kasihlah kepadanya karena telah menjadi bagian dari kehidupan ibu., sebagaimana saya sangat berterima kasih kepada ibu karena telah menjadi bagian dari kehidupan anak saya. Kami tahu, diatas segala harapan kami, ibu guru sendiri didera oleh banyak problem. Tuntutan akan kesejahteraan hingga status membuat kami semua juga ingin berbuat banyak untuk anda. Jadikan putera kami menjadi seorang yang kelak akan memahami profesimu dan kelak bisa berbuat banyak untukmu. Jangan ragu untuk meminta bantuan solidaritas maupun perjuangan dari kami. Karena kami tahu, tahun ini anda menjadi bagian dari kehidupan kami sekeluarga. Dengan cinta dan penuh harapan, ayah dari siswa anda.
Salam
Dari kami sekeluarga
*Ini sebuah surat yang saya ambil dari sebuah buku dengan judul GURU: MENDIDIK ITU MELAWAN karangan Eko Prasetyo dan diterbitkan oleh Resist Book
1. KENAPA AKU DIUJI?
Al Ankabut 2-3
a) Al Ankabut 2
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
b) Al Ankabut 3
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
2. KENAPA AKU TIDAK MENDAPATKAN APA YANG AKU IDAMKAN?
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqoroh 216)
3. KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” ( Al Baqarah 286 )
4. FRUSTASI?
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman ( Ali ‘Imran 139)
5. TAPI AKU TAK BISA BERTAHAN LAGI!!!
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” ( yusuf 87 )
6. LALU BAGAIMANA AKU MENGHADAPINYA?
a) Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung ( Ali ‘Imran 200 )
b) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, ( Al Baqarah 45)
7. KEPADA SIAPA AKU HARUS BERHARAP?
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.”( At taubah 129 )
8. APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah 111)
Mari kita berbenah dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup kita…
Dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah…
Semoga kita semakin semangat dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan Allah SWT dengan segala cinta
Bismillahirrohmanirrohim
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mujaadilah 11)
ADAB MUTA’ALLIM
A. Dalam Dirinya sendiri
1. Meninggalkan ujub
2. Tawadhu’
3. Jujur
4. Menjaga amanah ilmu yang dimilikinya
B. Terhadap Guru
1. Menganggap guru sebagai orang tua kedua yang harus dihormati dan ditaati
2. Duduk tenang dengan penuh perhatian terhadap ucapan guru
C. Terhadap Rekan Sejawat
1. Menghormati mereka
2. Tidak bergurau dengan olok-olokan
3. Tidak membenci mereka yang lamban dalam pemahaman
4. Tidak gembira jika ada rekan yang dihukum/kena sanksi
