RUMAHKU SURGAKU   6 comments

Apakah yang terbayang di benak kita ketika membaca atau mendengar kalimat itu??? Sebuah rumah dengan fasilitas dan perabotan mewah, atau rumah dengan kolam renang dan taman luas??? Tentu saja tidak!!! Rumah surgawi adalah rumah yang menyejukkan, menentramkan, melejitkan kecerdasan dan membangkitkan jiwa, Di rumah surgawi anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keyakinan tinggi kepada kasih sayang dan rahmat Allah Ta’ala, memiliki rasa harga diri dan kepercayaan diri yang kuat untuk terus bertumbuh , berkembang, dan berkontribusi. Akan tetapi jika di rumah Anda terjadi: 1. KEKERASAN FISIK 2. KEKASARAN VERBAL: bentakan, ancaman sadis, kata-kata tajam, kritikan pedas, umpatan, omelan, cemoohan, hinaan yang menyakitkan, dsb . 3. Bentuk-bentuk komunikasi negatif lainnya. MAKA Inilah NERAKA DI RUMAH ANDA. HATI-HATI!!! 1. Selain merusak keharmonisan, komunikasi negatif dapat menimbulkan timbunan ‘file’ berbahaya di pikiran bawah sadar. 2. Komunikasi negatif sangat buruk untuk pendidikan anak. Contoh: ketika orang tua marah kemudian mengumpat anak-anaknya dengan kata-kata negatif (misal: Bodoh, Tolol, semua isi kebun binatang dikeluarkan) maka anak tersebut akan turun harga dirinya dan menjadi anak yang TIDAK PERCAYA DIRI. Oleh sebab itu, marilah kita kembangkan KOMUNIKASI POSITIF agar tercipta surga di rumah anda dengan cara: 1. Adanya kontak visual 2. Tatapan mata lembut atau hangat. 3. Nada suara rendah 4. Senyum 5. Jarak dekat maksimal 2 meter 6. Mulai dengan kalimat dan sikap pengakraban ( jangan to the point) 7. Congruence (cocok) 8. Apresiatif: memberikan apresiasi positif pada anggota keluarga. Contoh: setelah suami pulang kerja, sesampainya di rumah kemudian ia menghampiri istri kemudian mengatakan “Capek ya ngurus rumah?” itu merupakan salah satu bentuk perhatian suami terhadap istri 9. Mendengarkan aktif. Contoh: sepulang sekolah, anak anda menceritakan peristiwa yang menimpanya di sekolah, maka dengarkanlah dengan seksama sampai ia selesai bercerita sebagai salah satu bentuk perhatian anda. Jangan potong pembicaraannya. Setelah ia selesai bercerita barulah anda Nasihati diadengan bijaksana jika perlu. SEBAGIAN BESAR KELUARGA TIDAK BAHAGIA PENYEBABNYA ADALAH KOMUNIKASI YANG BURUK. Simaklah sebuah percakapan antara ayah dan anak berikut ini. ANAK : yah, ayah sedang sibuk ya? Ayah : iya ayah sibuk sekali, ada apa? (dengan nada ketus) ANAK : Gaji ayah sebulan berapa sih? Ayah : 3 juta!!! ANAK : Lalu kalau sehari berapa? Ayah : Ya tinggal dibagi aja, masa’ kaya’ gitu aja ga bisa? ANAK : Ooo berarti seratus ribu ya Berarti kalau setengah hari lima puluh ribu ya yah? Ayah : Iya bener, sudah sana pergi, ayah sedang kerja. Ganggu aja!!! ANAK : yah, minta uang lima ribu. Ayah : lho kok??? Buat apa? ANAK : aku kan punya uang 45 ribu kalau ditambah 5 ribu kan jadi lima puluh ribu. Aku mau beli waktu ayah setengah hari. Aku ingin pergi mancing bareng ayah. >>> betapa menyedihkannya jika hal itu sampai menimpa diri kita, sesibuk apa pun, orang tua harus memiliki perhatian pada anak, tahu apa yang paling anak butuhkan. Itulah sedikit oleh-oleh dari seminar RUMAHKU SURGAKU oleh RUA Zainal Fanani, MM. Pr. NLP di Solo Baru pada hari sabtu, 1 Mei 2010

Posted Mei 4, 2010 by nisa bahagia in parenting, Uncategorized

Konsep Dasar PAKEM   1 comment

PAKEM adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangan. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan peserta didik, mengembangkan kreativitas sehingga proses pembelajaran efektif dan menyenangkan. Pembelajaran tersebut juga dikenal dengan nama PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (Contextual Teaching and Learning).

Baca entri selengkapnya »

Posted Desember 12, 2009 by nisa bahagia in keGURUan

Anakku Sangat Patuh kepada Gurunya   4 comments

Aku adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Pendidikan terakhirku S3, artinya saat ini aku adalah seorang Doktor. Aku mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sebuah fakultas yang akan melahirkan calon guru-guru pendidik putra bangsa. Saat ini aku memiliki seorang anak berumur 7 tahun. Dia kelas satu Sekolah Dasar. Anakku memiliki kebiasaan buruk, dia suka berkata kotor (misalnya:brengsek, bodoh, sialan). Aku bingung menghadapi anakku ini. Akhirnya aku mencoba bekerja sama dengan guru di sekolahnya untuk mengatasi tingkah laku anakku yang tidak sopan ini. Setiap hari aku selalu melaporkan kata-kata buruk yang diucapkan anakku kepada gurunya. Baca entri selengkapnya »

Posted Desember 11, 2009 by nisa bahagia in parenting

GAYA PENGASUHAN ORANG TUA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK   1 comment

Gaya pengasuhan orang tua (parenting style) adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya.
Macam-macam parenting style:
OTORITER
Berupaya menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara sepihak, tanpa memberi kesempatan untuk berdialog. Ia juga lebih senang menggunakan hukuman dalam menerapkan peraturan daripada menggunakan pendekatan dialog dan kehangatan hubungan. Anak dari keluaraga otoriter menunjukkan beberapa kesulitan dalam berperilaku. Mereka kurang memperlihatkan rasa ingin tahu dan emosi yang positif serta kurang bisa bergaul. Baca entri selengkapnya »

Posted Desember 11, 2009 by nisa bahagia in parenting

Penggunaan kata “pukul” dan “jam”   2 comments

A. Ghoffur berangkat sekolah pukul 07.00 wib
B. Ghoffur berangkat sekolah jam 07.00 wib
Kita pasti pernah mendengar dua kalimat di atas bahkan mungkin sering.
Kata “pukul” digunakan untuk menunjukkan waktu.
Contoh penggunaan kata “pukul”
1. Ghoffur berangkat sekolah pukul 07.00 wib
2. Effin bangun tidur pukul 04.00 wib
Kata “jam” digunakan untuk menunjukkan lamanya waktu.
Contoh penggunaan kata “jam”
1. Adik belajar selama 2 jam
2. Ibu memasak selama 1 jam

Posted Desember 6, 2009 by nisa bahagia in keSDan

TOTTO-CHAN ; Gadis Cilik Di Jendela   3 comments

Judul Buku : TOTTO-CHAN ; GADIS CILIK DI JENDELA
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 271
Harganya sekitar Rp 55.000,00 (Hard Cover) tahun 2009
Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto-Chan. . Totto Chan ini anaknya tidak bisa diam. Ia gemar sekali berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Oleh karena itu, Totto Chan dianggap “nakal” oleh gurunya. Padahal, gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Para guru sudah kewalahanmenghadapi Totto Chan sehingga ia dikeluarkan dari sekolah.
Mama Totto Chan akhirnya mendaftarkan Totto Chan ke Tomoe Gakuen. Di Tomoe Gakuen, para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Totto Chan sangat senang bersekolah di Tomoe Gakuen. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.
Tomoe Gakuen adalah sekolah yang unik. Para murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai dengan keinginan mereka. Guru membuat daftar soal dan pertanyaan tentang pelajaran hari itu dan siswa boleh berkonsultasi dengan guru kapan saja apabila mengalami kesulitan.
Tomoe Gakuen dipimpin oleh Mr. Sosaku Kobayashi, kepala sekolah bijak yang selalu berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya. Mr. Sosaku Kobayashi mendidik setia anak untuk menjadi siswa yang berkarakter dan penuh percaya diri sendiri dengan menggunakan pendekatan alam.
Untuk ‘memaksa’ anak menyantap makanan yang bergizi, kepala sekolah meminta siswa untuk melengkapi bekal makanan mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ dan ’sesuatu dari laut’. ‘Paksaan’ tersebut tidak dirasakan oleh anak, karena mereka lebih tertarik untuk menebak-nebak dan sebisa mungkin melengkapi bekal mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ (makanan dari daratan) dan ’sesuatu dari laut’ (makanan dari laut). Sebelum mulai acara makan, kepala sekolah akan berkeliling dan memeriksa bekal setiap anak. Kadang beliau mengajukan pertanyaan dan menjelaskan menu makanan tertentu.
Setelah seharian belajar, siswa dibolehkan memilih acara bebas. Biasanya mereka memilih untuk berjalan-jalan. Ditemani dengan Bapak/Ibu guru mereka berjalan-jalan dengan riang, sesekali mereka bertanya tentang apa saja yang mereka liat atau temui. Anak-anak tidak pernah menyadari, bahwa dalam acara bebas ini mereka sesungguhnya belajar banyak tentang sains, biologi, dan sejarah.
Bila Anda menganggap seorang anak –yang melakukan perbuatan yang dianggap aneh oleh orang dewasa– harus diberi hukuman, maka Anda adalah salah seorang yang perlu menyimak kisah berikuti ini.
Peristiwa ini terjadi ketika dompet kesayangan Totto-chan jatuh di lubang pembuangan kakus di sekolah. Gadis cilik itu menciduk kotoran yang ada di lubang penampungan kakus sembari berharap menemukan dompetnya. Namun, sampai bel pelajaran sekolah berbunyi dan tumpukan kotoran telah meninggi, dompet belum juga ketemu. Pada saat itu muncullah Kepala Sekolah. Hebatnya dia sama sekali tidak memarahi Totto-chan. Bahkan menganggapnya sedang melakukan pekerjaan penting.

Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.
“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan
“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tidak ingin membuang waktu.
“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu, Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi.
Kepala Sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetmu?” tanyanya.
“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.
Kepala sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai kan?”. Kemudian pria itu pergi lagi seperti sebelumnya.
“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja (hal. 57 – 58).

Kepala Sekolah memilih menanyakan kesediaan Totto-chan mengembalikan kotoran ke dalam kakus. Tidak melarang Totto-chan melanjutkan “proyeknya”, namun mengajarkan tanggung jawab kepada murid kecilnya daripada memarahinya. Tidak ada kemarahan, tidak juga hardikan, yang ada adalah pengertian mendalam terhadap alasan tindakan seorang anak. Buat siswa kelas satu SD, menciduk kotoran dari lubang penampungan kakus bukanlah hal yang aneh, apalagi bila hal itu dilakukan untuk mencari dompet yang jatuh ke kakus.

Kelebihan lain Tomoe Gakoen adalah pelajaran praktek yang langsung dibimbing seorang ahli di bidangnya. Seperti yang dialami Totto-chan pada saat Kepala Sekolah memperkenalkan seorang guru baru kepada murid-murid.
Saat memandangi guru itu, Totto-chan merasa pernah melihatnya. “Dimana, ya?” ia berusaha mengingat-ingat. Wajah pria itu ramah, terbakar matahari, dan penuh kerutan. Ia merasa telah sering melihat pipa ramping yang tergantung pada tali hitam yang berfungsi sebagai ikat pinggang itu. Tiba-tiba Totto-chan ingat!
“Bukankah Anda petani yang mengolah ladang dekat anak sungai itu?”tanyanya riang pada si pria.
“Benar,” kata “Guru Baru” itu sambil tersenyum lebar (hal. 177 -178).

Kepala Sekolah menghargai kompetensi Si Petani untuk mengajarkan pada murid-murid tentang cara bertani yang baik. Perhatikan reaksi Kepala sekolah ketika Si Petani tersebut menolak disebut “Guru” oleh anak-anak Tomoe. Reaksi yang menunjukkan penghormatan terhadap kompetensi seseorang :

“Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia Guru Pertanian Kalian,” kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu. “Dengan senang hati Dia setuju untuk mengajari Kalian bagai mana cara bercocok tanam. Ini seperti mendapatkan pembuat roti untuk mengajari Kalian caranya membuat roti. Nah, dengar,” katanya kepada Petani itu, “Katakan kepada Anak-anak apa yang harus Mereka lakukan, lalu Kita akan mulai sekarang juga.” (hal 178).

JANGAN MUDAH MARAH ATAS APA YANG DILAKUKAN ANAK.
BERIKANLAH MEREKA KEPERCAYAAN
AJARILAH MEREKA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB

Totto-Chan; Gadis Cilik di Jendela ditulis oleh mantan murid Tomoe Gakuen yaitu Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi). Buku ringan dan mengasyikkan namun sangat berbobot. Layak dibaca semua usia dan semua kalangan.

Posted Desember 6, 2009 by nisa bahagia in keSDan

KECERDASAN EMOSI (emotional quotient)   1 comment

Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EI ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah ‘kekuasaan’ yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EI lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.

Baca entri selengkapnya »

Posted Desember 5, 2009 by nisa bahagia in Tips