TOTTO-CHAN ; Gadis Cilik Di Jendela   3 comments


Judul Buku : TOTTO-CHAN ; GADIS CILIK DI JENDELA
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 271
Harganya sekitar Rp 55.000,00 (Hard Cover) tahun 2009
Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto-Chan. . Totto Chan ini anaknya tidak bisa diam. Ia gemar sekali berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Oleh karena itu, Totto Chan dianggap “nakal” oleh gurunya. Padahal, gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Para guru sudah kewalahanmenghadapi Totto Chan sehingga ia dikeluarkan dari sekolah.
Mama Totto Chan akhirnya mendaftarkan Totto Chan ke Tomoe Gakuen. Di Tomoe Gakuen, para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Totto Chan sangat senang bersekolah di Tomoe Gakuen. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.
Tomoe Gakuen adalah sekolah yang unik. Para murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai dengan keinginan mereka. Guru membuat daftar soal dan pertanyaan tentang pelajaran hari itu dan siswa boleh berkonsultasi dengan guru kapan saja apabila mengalami kesulitan.
Tomoe Gakuen dipimpin oleh Mr. Sosaku Kobayashi, kepala sekolah bijak yang selalu berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya. Mr. Sosaku Kobayashi mendidik setia anak untuk menjadi siswa yang berkarakter dan penuh percaya diri sendiri dengan menggunakan pendekatan alam.
Untuk ‘memaksa’ anak menyantap makanan yang bergizi, kepala sekolah meminta siswa untuk melengkapi bekal makanan mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ dan ’sesuatu dari laut’. ‘Paksaan’ tersebut tidak dirasakan oleh anak, karena mereka lebih tertarik untuk menebak-nebak dan sebisa mungkin melengkapi bekal mereka dengan ’sesuatu dari pegunungan’ (makanan dari daratan) dan ’sesuatu dari laut’ (makanan dari laut). Sebelum mulai acara makan, kepala sekolah akan berkeliling dan memeriksa bekal setiap anak. Kadang beliau mengajukan pertanyaan dan menjelaskan menu makanan tertentu.
Setelah seharian belajar, siswa dibolehkan memilih acara bebas. Biasanya mereka memilih untuk berjalan-jalan. Ditemani dengan Bapak/Ibu guru mereka berjalan-jalan dengan riang, sesekali mereka bertanya tentang apa saja yang mereka liat atau temui. Anak-anak tidak pernah menyadari, bahwa dalam acara bebas ini mereka sesungguhnya belajar banyak tentang sains, biologi, dan sejarah.
Bila Anda menganggap seorang anak –yang melakukan perbuatan yang dianggap aneh oleh orang dewasa– harus diberi hukuman, maka Anda adalah salah seorang yang perlu menyimak kisah berikuti ini.
Peristiwa ini terjadi ketika dompet kesayangan Totto-chan jatuh di lubang pembuangan kakus di sekolah. Gadis cilik itu menciduk kotoran yang ada di lubang penampungan kakus sembari berharap menemukan dompetnya. Namun, sampai bel pelajaran sekolah berbunyi dan tumpukan kotoran telah meninggi, dompet belum juga ketemu. Pada saat itu muncullah Kepala Sekolah. Hebatnya dia sama sekali tidak memarahi Totto-chan. Bahkan menganggapnya sedang melakukan pekerjaan penting.

Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika Kepala Sekolah kebetulan lewat.
“Kau sedang apa?” tanyanya kepada Totto-chan
“Dompetku jatuh,” jawab Totto-chan, sambil terus mencedok. Ia tidak ingin membuang waktu.
“Oh, begitu,” kata Kepala Sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.
Waktu berlalu, Totto-chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi.
Kepala Sekolah datang lagi. “Kau sudah menemukan dompetmu?” tanyanya.
“Belum,” jawab Totto-chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah.
Kepala sekolah mendekat dan berkata ramah, “Kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai kan?”. Kemudian pria itu pergi lagi seperti sebelumnya.
“Ya,” jawab Totto-chan riang, sambil terus bekerja (hal. 57 – 58).

Kepala Sekolah memilih menanyakan kesediaan Totto-chan mengembalikan kotoran ke dalam kakus. Tidak melarang Totto-chan melanjutkan “proyeknya”, namun mengajarkan tanggung jawab kepada murid kecilnya daripada memarahinya. Tidak ada kemarahan, tidak juga hardikan, yang ada adalah pengertian mendalam terhadap alasan tindakan seorang anak. Buat siswa kelas satu SD, menciduk kotoran dari lubang penampungan kakus bukanlah hal yang aneh, apalagi bila hal itu dilakukan untuk mencari dompet yang jatuh ke kakus.

Kelebihan lain Tomoe Gakoen adalah pelajaran praktek yang langsung dibimbing seorang ahli di bidangnya. Seperti yang dialami Totto-chan pada saat Kepala Sekolah memperkenalkan seorang guru baru kepada murid-murid.
Saat memandangi guru itu, Totto-chan merasa pernah melihatnya. “Dimana, ya?” ia berusaha mengingat-ingat. Wajah pria itu ramah, terbakar matahari, dan penuh kerutan. Ia merasa telah sering melihat pipa ramping yang tergantung pada tali hitam yang berfungsi sebagai ikat pinggang itu. Tiba-tiba Totto-chan ingat!
“Bukankah Anda petani yang mengolah ladang dekat anak sungai itu?”tanyanya riang pada si pria.
“Benar,” kata “Guru Baru” itu sambil tersenyum lebar (hal. 177 -178).

Kepala Sekolah menghargai kompetensi Si Petani untuk mengajarkan pada murid-murid tentang cara bertani yang baik. Perhatikan reaksi Kepala sekolah ketika Si Petani tersebut menolak disebut “Guru” oleh anak-anak Tomoe. Reaksi yang menunjukkan penghormatan terhadap kompetensi seseorang :

“Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia Guru Pertanian Kalian,” kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu. “Dengan senang hati Dia setuju untuk mengajari Kalian bagai mana cara bercocok tanam. Ini seperti mendapatkan pembuat roti untuk mengajari Kalian caranya membuat roti. Nah, dengar,” katanya kepada Petani itu, “Katakan kepada Anak-anak apa yang harus Mereka lakukan, lalu Kita akan mulai sekarang juga.” (hal 178).

JANGAN MUDAH MARAH ATAS APA YANG DILAKUKAN ANAK.
BERIKANLAH MEREKA KEPERCAYAAN
AJARILAH MEREKA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB

Totto-Chan; Gadis Cilik di Jendela ditulis oleh mantan murid Tomoe Gakuen yaitu Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi). Buku ringan dan mengasyikkan namun sangat berbobot. Layak dibaca semua usia dan semua kalangan.

Posted Desember 6, 2009 by nisa bahagia in keSDan

3 responses to “TOTTO-CHAN ; Gadis Cilik Di Jendela

Subscribe to comments with RSS.

  1. cerita yang menarik!

    dani tak boleh malas
  2. Sungguh sangat jarang menemui pendidik dengan cara berpikir yang sehebat ini. Cerita ini sungguh menginspirasi…..
    Andai ada guru yang tidak sedikit-sedikit main cubit, main pukul, marah2….mmmm output dari pendidikan kita akan semakin berkualitas, tak sekedar lolos UMPTN (apa ya istilahnya sekarang?) atau NEM tinggi..

  3. Ak PeGn Jd IBuk Yg KayAx kePala sKul’y….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: